A Journey of Letting Go


bannerrr photo banner_nulis_kilat-300x112.png

Yang kuinginkan hanyalah menyetir berjam-jam seorang diri dengan lagu-lagu favoritku mengalun dari stereo, bukannya hujanan pertanyaan dan lelucon garing dari teman seperjalanan yang bahkan tidak terlalu akrab denganku.
Semua ini sebenarnya berawal dari lima hari yang lalu saat aku memutuskan untuk mengepak tas dan pergi berlibur seorang diri ke Amatoa Resort di Tanjung Bira, Bulukumba. Tapi jika menilik lebih jauh, segalanya bermula sejak delapan bulan lalu, ketika aku memergoki pacarku berselingkuh. Aku heran kenapa sampai sekarang dia belum diciduk Aparat dan dijebloskan ke penjara, padahal dia telah merampok enam tahun masa mudaku. Tidak ada lagi teman-teman yang cukup dekat denganku karena setiap hari aku hanya merasa memerlukan dirinya. Mimpiku pun tidak jauh-jauh dari menjadi istrinya. Konyol sekali, enam tahun kuhabiskan dengan memendam mimpi itu, yang pada akhirnya diwujudkannya untuk wanita lain. Wanita yang bahkan belum tahu seberapa tak sedapnya bau kakinya, dan seberapa menyebalkan dia dalam memilih-milih makanan. Perlu kesabaran ekstra untuk tidak mengamuk ketika dia bahkan tidak mau mencicipi nasi goreng buatanku hanya karena di dalamnya kucampurkan kuning telur.
Aku tahu semua kekurangannya itu dan aku menerimanya. Tapi dia bahkan tidak menghargai kelebihanku, apa lagi kekuranganku.
Sehari setelah hari pernikahannya dua bulan lalu, aku mulai berhenti menangis kemudian menelusuri mesin pencari Google dengan kata kunci ‘depresi’. Semua artikel yang muncul seperti menonjokku di ulu hati. Aku benar-benar–sembilan puluh persen–sedang depresi. Sepuluh persen lagi sanggup membuatku menelan sepuluh butir pil Aspirin sekaligus.
Saat itu aku tahu aku sanggup melakukannya, aku sanggup melampaui sepuluh persen itu lagi dengan kecepatan cahaya jika aku tidak ingat mamaku. Jadi selanjutnya, aku hanya menyalakan DVD player dan memutar serial amerika, Walking Dead. Yang merupakan usahaku untuk bangkit kembali semenjak sebelumnya aku hampir kehilangan semua minatku untuk bersenang-senang, termasuk membaca dan bersih-bersih.
Aku sadar selama ini aku terlalu menjadikannya poros dalam duniaku, hingga saat dia pergi, aku seakan terombang-ambing dalam ruang hampa. Aku merasa lebih dari sekedar patah hati. Aku merasa seperti catatan kosong menjelang semester baru. Tak berisi. Mama bilang bahwa itu bagus, aku hanya perlu mengisinya dengan sesuatu yang baru dan lebih bermakna. Jadi aku mulai belajar memasak, mendaftar kelas yoga dan salsa. Semuanya berjalan lancar hingga aku berhasil meyakinkan mama dan bapakku untuk menempuh kira-kira lima jam perjalanan dari Makassar menuju Tanjung Bira dengan menyetir seorang diri.
Aku menyewa satu Bungalow di Amatoa Resort setelah mendengar banyak rekomendasi bahwa tempat ini sangat ideal untuk relaksasi. Dan benar saja. Pemandangannya sepintas membuatku melupakan masalahku. Bungalow-bungalow dibangun di atas tebing berbatu langsung ke laut. Bungalow-ku sendiri berhadapan dengan kolam renang yang sisi sebelahnya merupakan batas tebing sebelum laut. Hari pertama kuhabiskan dengan berenang dan bermalas-malasan di bale-bale beranda depan Bungalow pasangan turis dari Kanada bernama Pierre dan Lena. Mereka sangat ramah, malamnya kami bahkan sempat makan malam bersama. Esoknya aku juga ikut pasangan itu naik speedboat menuju pulau Likuang Loe dan mencoba snorkling di sana. Semuanya tampak sempurna hingga aku memutuskan tinggal untuk perayaan tahun baru.
Baru kali ini perayaan pergantian tahun kulewatkan seorang diri, dan rasanya tidak seburuk dugaanku. Aku memutuskan menghabiskannya di tempat tidur hotel saja sambil makan mie instan dan nonton TV. Aku tidak enak mengganggu pasangan turis itu lagi. Mereka pasti butuh privasi di saat-saat istimewa ini.
Sesaat setelah aku melepas colokan termos. Pintuku diketuk seseorang dari luar.
Lena yang ternyata berada di balik pintu. Matanya berbinar-binar. “Let’s go!”
“But where?”
Dia mulai menyanyikan satu bait dari lagu Nicky Minaj, “Beach, beach. Let’s go to the beach.”
“Oh, Well, I don’t know,” kataku. “I don’t feel like going anywhere tonight.”
Dia memandangku setengah terpukau. “What? It’s new year’s eve! I mean, massive fireworks… and all…”
“I know, right? I’m just–I’m not really into new year’s eve parties.” Aku berbohong. “Anyway I can still watch the fireworks from here.”
“Are you sure?”
Aku memandangnya sambil bekernyit. “Nah..” kataku, lalu tertawa. “But seriously, Lena. I’m staying. Thank you, by the way, for inviting me. It’s very kind of you.”
“Oh, it’s nothing,” jawabnya, sambil mengibaskan tangan. “Okay, gotta go now. If you change your mind, you know where we are.”
Aku memandanginya melintasi undak-undak sebelum menutup pintu dan kembali ke tempat tidur. Setelah menelepon orang tuaku dan bosan dengan acara TV lokal, aku mengambil jaket dan keluar kamar, lalu duduk di bale-bale menghadap ke laut. Sudah ada beberapa kembang api yang dilesakkan ke langit malam padahal baru pukul sebelas.
Kulihat Bungalow-Bungalow lain sepi tak berpenghuni hampir semuanya, pasti mereka ke pantai juga. Aku mulai mempertimbangkan apa sebaiknya aku turut ke sana sebelum mendengar suara langkah kaki di undakan. Kukira Lena yang kembali, tapi ternyata orang lain. Seseorang yang mengenaliku.
“Bos Windri?” sapanya ragu-ragu, sambil mendekati bale-bale tempatku berbaring. Nama panggilan itu baru kudengar lagi setelah lewat satu dekade. Aku memicing mata siaga sebelum sosoknya menjulang jelas di hadapanku. Dia tersenyum. Senyum yang sepertinya kukenali.
“De–an?” kataku lambat-lambat. “Dean, kan?”
Senyumnya semakin lebar. “Aku masih diingat Bos!”
Aku bangkit dari posisi berbaring dan duduk menyamping. “Wah, sudah lama sekali. Apa yang kau lakukan di sini?” kataku sumringah.
Dia ikut duduk di sampingku. Badannya terlihat gagah dan tinggi, beda sekali waktu terakhir aku melihatnya. “Tahun baru-an, lah! Kau sendiri? Kenapa sendirian di sini? Aku hampir mengiramu hantu.”
“Aku sudah di sini sejak tiga hari yang lalu dan tidak pernah melihatmu sebelumnya. Jangan-jangan kau menyusup.”
“Enak saja!” sergahnya. “Aku baru sampai beberapa jam yang lalu. Kau ke sini sama siapa?”
“Ehm,” kataku. “Sama keluargaku. Kau?”
“Sendirian.”
Jawaban yang meluncur dari mulutnya terdengar terlalu enteng,hingga memancingku untuk ikut berkata, “Aku juga sendiran.”
Dean menatapku dengan sorot bingung. “Tadi bilang sama keluarga.”
“Tidak usah dibahas.”
Tawanya menyembur. “Bos, kau tidak berubah.”
“Bas-bis-bus-bos, jangan memanggilku begitu. Sudah tidak ada yang pernah memanggilku begitu.”
“Sudah berapa lama?” tanyanya tidak jelas, sambil membuang badannya ke belakang untuk berbaring. Kedua tangannya dijadikan alas kepala.
“Hah?”
“Sudah berapa lama kita tidak bertemu?”
“Hm… sebelas tahun, mungkin?”
“Sebelas tahun, ya?” gumamnya, terdengar seperti ditunjukkan untuk diri sendiri. Kami sama-sama terdiam beberapa saat yang hanya diiringi letupan-letupan kembang api dan desir ombak.
Dean adalah teman SD-ku, atau lebih tepatnya, musuh SD-ku. Yang kudengar setelah lulus SD, dia pindah ke Jakarta, aku sendiri pindah ke Medan karena bapakku dipindah tugaskan ke sana, setelah lulus SMP, aku kembali ke Makassar dan sedikit pun tak pernah mendengar kabar tentang Dean lagi.
“Ingat tidak, kenapa dulu kau dipanggil bos?” tanyanya tiba-tiba. Aku mengangkat kakiku ke atas matras bale-bale dan duduk bersila. Sebelum sempat kujawab, di berkata, “Kau selalu membawa uang jajan yang berlebih ke sekolah, tapi kau tidak pernah pelit, hampir setiap hari kau mentraktir sekelas jajan di kantin.”
Aku mendengus masam. “Tapi kau sendiri tidak pernah memanggilku bos, kau hanya terus memanggilku Si Jelek.”
“Karena kau memang jelek.”
“Hei!” cetusku, sambil memutar kepalaku menghadapnya.
Dean hanya tergelak dengan mata terpejam. “Itulah yang akan dikatakan semua anak laki-laki kepada anak perempuan yang telah menggangu mereka dengan cara yang tidak dapat mereka pahami.”
“Mengganggu?” tanyaku. “Mengganggu dalam hal apa?”
Matanya mendadak terbuka dan pandangan kami seketika bertemu. “Kau tidak mengerti?” Alisnya terangkat. Aku menggeleng. Dia ikut menggeleng-geleng sambil tertawa-tawa. “Berapa sih, umurmu? Maksudnya waktu kecil dulu aku naksir padamu, tahu.”
Aku mendengus tajam. “Kau ingat pernah membuatku jatuh dari sepeda? Itu kau bilang naksir? Luka jahitannya sampai sekarang masih membekas, asal tahu saja.”
“Benarkah?” Dia sontak terduduk. Kusingkap celana olahragaku sedikit ke atas lutut untuk menunjukkan padanya luka berbekas yang dia sebabkan. Cukup menundukkan kepala untuk melihat bekas luka itu, tapi yang dilakukannya malah berlutut di hadapanku dengan kening bertumpu pada lututku yang terbuka.
“Aku benar-benar minta maaf,” katanya.
“Dean, jangan berlebihan! Berdiri sekarang!” Kudorong kepalanya dari lututku.
“Tapi aku benar-benar minta maaf.” Dia benar-benar menampakkan wajah bersalah dengan masih dalam posisi berlutut. “Waktu itu aku masih pengecut dan tidak berani minta maaf. Jadi sekarang aku minta maaf untuk dua hal, untuk luka ini dan untuk diriku di masa lalu.”
“Enak sekali bicara,” kataku ketus, lalu mendadak bangkit hingga membuatnya ke terpelanting ke belakang. Aku berjalan menuju pagar pembatas memandang lautan gelap di bawah dengan ombak-ombak liarnya.
“Ngomong-ngomong apa yang membuatmu sendirian ke sini?” Dia mengikutiku dan aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak memutar bola mata.
“Kau sendiri?”
“Aku menunggu pacarku yang sedang dalam perjalanan ke sini. Kau sendiri, pacarmu mana?”
“Pacarku selingkuh dan menikahi wanita itu dua bulan lalu,” jawabku tanpa jeda dan tanpa perasaan.
“Oh,” katanya. Dia terdiam beberapa saat sebelum kembali buka suara. “Mau membahasnya?”
“Tidak.”
“Oke.”
Lalu semuanya datang bersamaan. Desingan sambung menyambung dan bunga api yang meletup setelahnya memancarkan berbagai warna di tengah lautan hitam langit malam. Teknisnya tidak ada yang lucu, tapi aku dan Dean tertawa terbahak-bahak dan menunjuk-nunjuk bunga-bunga api yang paling menggelegar. Kami seperti kembali menjadi murid SD yang kegirangan melihat pesawat melintas di atas atap rumah.
“Happy new year!” sorak Dean melalui tangannya yang dibentuk corong. “Happy new year, Bos!”
“Happy new year!” sorakku balik dengan sekuat tenaga.
“Dasar mantan Bos yang brengsek, kuharap kau terserang penyakit gatal-gatal jika berniat selingkuh lagi dari istrimu!”
Pernyataan itu membuatku tepekur tetapi selanjutnya aku ikut berteriak. “Dasar Bedebah! Kau bahagia sekarang bersama istrimu? Kuharap begitu! Dasar Bedebah!”
“Kau harus lebih kejam lagi!” cetus Dean. “Dasar mantan Bos yang kejam! Kuharap kau tidak menyesal meninggalkan wanita sehebat Bos! Dasar kejam!”
Kata-kata terakhirnya itu membuatku goyah dan suaraku mulai bergetar. “Kuharap dia mencintaimu seperti kau mencintainya. Kuharap dia mencintaimu seperti aku mencintaimu.”
Ini benar-benar memalukan tapi aku menangis. Aku berjongkok dan melepaskan sedu-sedanku. Dua bulan ini aku berusaha menahan semuanya dan berjanji tidak akan menangis lagi. Tapi sekarang aku menangis seperti orang lemah dan tolol.
“Apa kau pernah mendengar menangis pada malam tahun baru merupakan pertanda akan buruknya setahun yang akan datang?” tanya Dean di dekat telingaku.
“Kau pikir siapa yang membuatku begini?” isakku.
“Sejak tadi kau terlihat sudah ingin menangis, aku hanya membuatmu melepaskannya. Ada bagusnya ringankan sedikit beban menyambut lembaran baru calendar, kan?”
“Kau tidak mengerti,” isakku. “Kau tidak mengerti.”
“Aku mengeri.”
“Kau tidak berdiri di dalam sepatuku. Kau tidak akan mengerti.”
Kudengar dia mendesah sebelum menarik salah satu sendal hotel dari kakiku, kemudian melepaskan sendalnya sendiri, lalu mengenakan sendalku.
“Sekarang dengarkan aku,” ujarnya selama aku berhenti menangis karena tercengang. “Aku juga melewatkan hari-hari berat belakangan ini. Dua bulan lalu puncaknya. Pacarku duduk di pelaminan bersama selingkuhannya.”
Kepalaku tersentak menengadah padanya ketika kalimat itu berhasil kucerna. Dia menatapku lurus-lurus, terlihat berusaha memastikan sesuatu sebelum melanjutkan, “Aku baru tahu kau mantan pacar lelaki itu beberapa hari yang lalu, aku mencarimu sampai ke rumahmu. Ibumu berkata kau ke Tanjung Bira,” katanya sedikit ragu-ragu.
“Apa?”
“Jadi di sini lah aku sekarang.”
Aku memandangnya tidak percaya. “Kau bercanda, kan?”
“Tidak.”
“Jadi sejak tadi kau pura-pura kaget melihatku?”
“Itu tidak pura-pura, aku benar-benar kaget melihatmu.”
“Dasar Bedebah!” Aku bangkit berdiri dan melangkah menuju bungalow-ku.
Aku menyangka dia akan menghentikanku dan mencoba menjelaskan panjang lebar apa yang terjadi, yang sebenarnya ingin kudengar. Tetapi dia hanya berseru, “Mimpi yang indah, Bos. Selamat tahun baru sekali lagi, sampai jumpa besok.”
“Jangan harap! Besok pagi-pagi sekali aku akan langsung check-out!” kataku sengit saat tiba di depan pintu.
“Boleh aku menumpang? Aku tidak bawa mobil.”
Badanku berputar menghadapnya sebelum masuk dan menutup pintu. “Kau bilang sedang menunggu pacarmu.”
“Yang satu itu, untung saja, aku berbohong.” Bisa kulihat seringai lebarnya sebelum pintu kubanting menutup.

***
Keesokan paginya setelah berpamitan dengan Lena dan Pierre–kami juga berjanji untuk tetap saling berkabar melalui e-mail–aku cepat-cepat turun untuk check-out, dan jantungku hampir copot saat melihat Dean melambai di sebelah meja resepsionis. Dia mengenakan kacamata hitam, dan terlihat lebih tampan di pagi hari dengan kaus oblong putih dan celana puntung, yang entah mengapa membuatku semakin kesal.
“Selamat pagi, Bos.” sapanya. “Siap berangkat? Aku siap jadi supirmu.”
Aku tidak menyahut, tapi dia terus cengengesan di sebelahku hingga membuat resepsionisnya curi-curi pandang padanya dengan wajah malu-malu.
“Kau benar-benar mau numpang mobilku?” tanyaku tanpa repot-repot memalingkah wajah.
“Yakin seratus persen,” jawabnya riang.
Setelah urusan check-out selesai, aku langsung berbalik pergi meninggalkan koperku di belakang. “Setidaknya jadilah berguna sedikit, bawakan koperku.”
Aku memutar kepalaku di bahuku dan mendapati wajah mengejeknya yang diikuti cekikikan dari resepsionis. “Ay-ay, Bos,” katanya cepat-cepat sebelum aku sempat berkata apa-apa lagi, lalu dia menarik koperku bersamanya mengikutiku.
Kubiarkan dia yang menyetir akhirnya. Untuk beberapa waktu kami terdiam, kurasa dia tahu pikiranku terbang kembali kepada mantan pacarku yang dulu biasa menyetirkan mobilku sementara aku meletakkan kakiku di atas dashboard dan menyanyi sampai tenggorokanku sakit.
Tanganku terjulur untuk menyalakan stereo, tapi ditepis oleh Dean. “Semua lagu-lagumu di dalam sini pasti mengingatkanmu tentangnya,“ katanya. Lalu tindakan selanjutnya terjadi begitu cepat. Dia menurunkan Sun Visor di atas kepalanya kemudian menyambar semua CD albumku dari sana sebelum dilemparkannya lewat jendela yang terbuka.
Aku praktis berteriak dan menjambak rambutnya. “Apa yang kau lakukan pada album-albumku!”
“Aaaaa! Lepaskan! Lepaskan! Kita bisa menabrak, hey!”
Mobilnya meliuk-liuk sebentar sebelum aku melepaskannya. “Hoah! Benar-benar lancang! Apa lagi yang akan kau lakukan selanjutnya, hah? Sekalian saja buang semua isi koperku karena semua pakaian di dalamnya pernah kupakai saat bertemu dengannya!”
“Aku akan menggantikan semua yang kubuang dengan album-album baru.”
“Kau pikir kau tahu selera musikku?” pekikku.
“Tidak, aku tidak tahu,” jawabnya sederhana. “Jadi sekarang ayo kita bicarakan tentang selera musikmu.”
“Oke baiklah,” kataku sarkastis. “Kau tahu sekarang apa yang ingin kudengar?”
“The Beatles?”
“Bisa jadi,”
“The Beach Boys?”
“Bisa jadi,”
“Aku menyerah.”
“Semuanya selain suaramu.”
Dia tergelak lama sekali, jenis tawa yang menular hingga aku tidak bisa tidak ikut tertawa.
“Sekarang giliranku,” katanya setelah menemukan kembali kewarasannya. “Tebak sekarang apa yang ingin kudengar.”
“The Beatles?” jawabku hanya mengikutinya.
“Bukan.”
“ The Beach Boys?”
“Bukan,” desahnya.
“Kalau begitu aku menyerah,” kataku acuh tak acuh sambil menaikkan kakiku ke atas dashboard.
“Tidak ada selain suaramu.”
Kepalaku berputar padanya, dia tersenyum sebelum mengerling sebentar ke arahku lalu berkedip menggoda. Aku memutar bola mata.
“Sekarang apa lagi yang kita mainkan?” tanyanya.
“Bagaimana kalau ‘siapa yang paling tahan tidak mengeluarkan suara dialah pemenangnya’?” usulku, sambil memejamkan mata.
“Kalau begitu aku langsung mengaku kalah sebelum bertanding.”
Aku mengigit bagian dalam pipiku menahan godaan untuk kembali menggila dan menjambaki rambutnya.
“Waktu SD aku ingat cita-citamu adalah menjadi pelukis, apa kau sudah mewujudkannya?”
“Gambar sepasang mata yang simetris saja tidak sanggup kubuat bagaimana jadi pelukis?”
“Kalau begitu, ceritakan tentang mimpimu yang sesungguhnya.”
Aku membuka mata dan menolehkan kepalaku ke arahnya. “Mimpiku? Menjadi penulis, kupikir.”
“Kupikir? Kau kedengaran tidak begitu yakin.”
“Karena aku baru memikirkannya baru-baru ini,” sahutku. “Selama ini aku tidak memikirkan mimpi yang muluk-muluk karena kupikir aku sudah cukup bahagia.”
Dia terbungkam beberapa saat. “Kenapa kau berpikir untuk menjadi penulis?”
“Karena aku suka membaca dan laptopku penuh dengan novel terpenggal dan cerpen? Sebelum ke Tanjung Bira, aku mulai menulis lagi dan rasanya sangat menyenangkan.”
“Senang mendengarnya.” Dean tersenyum. Aku baru memerhatikan dia ternyata memiliki lesung pipi.
“Bagaimana denganmu?” tanyaku.
“Mimpiku selalu sama sejak kecil. Sekarang aku calon dokter.”
“Kau?” Aku hampir menyemburkan tawa. ”Calon dokter?”
“Kenapa? Apanya yang lucu?”
“Entah ya, tapi sulit saja buatku membayangkan anak lelaki yang dulu mengirimku ke rumah sakit dengan ulahnya melemparkan batu gunung ke ban sepedaku, menjadi seorang dokter.”
“Uh, kau mengungkitnya lagi. Kau ingin aku berlutut lagi di hadapanmu?”
”Apa gunanya berlutut,” kataku. “Jika kau serius ingin kumaafkan, nanti jika kau resmi jadi dokter, aturkan saja pertemuanku dengan seorang dokter yang dapat memperbaiki lututku.”
Dia tertawa lagi sambil mengangguk-angguk setuju. “Beberapa hari belakangan aku sudah mulai berpikir logis tentang apa yang terjadi pada hubunganku dulu. Aku bertanya-tanya sendiri jika saja aku lebih tua dan sudah mapan apa dia tidak akan berselingkuh? Lalu jawaban yang kutemukan dari diriku sendiri adalah, tidak. Dia tetap akan berselingkuh karena jelas-jelas aku melihat cinta di matanya yang tidak pernah kulihat sebelumnya saat dia duduk di pelaminan.”
“Kau datang ke pernikahannya?” tanyaku terkejut.
“Ya. Dia mengundangku seperti tidak jadi apa-apa, jadi aku datang seperti tidak terjadi apa-apa juga. Aku meremas kencang tangan mantan pacarmu dan membawakan amplop yang di dalamnya bukannya uang, malah sebuah surat kekanak-kanakan bertuliskan, ‘selamat, Bajingan!’”
“Kau menulis itu?” Aku tertawa. Pendapatku tentangnya pelan-pelan berubah.
“Ya, yang akhirnya aku sesali.”
“Kenapa kau sesali?”
“Entahlah, mungkin karena aku sudah berhasil melewati fase kebencian itu dan mulai menuju fase selanjutnya yaitu sebuah penerimaan?”
Pada akhirnya sepanjang perjalanan dia tidak membiarkanku tidur. Kami membicarakan banyak hal, dari hal serius sampai hal-hal konyol mengenai kenangan waktu SD dulu. Untuk sejenak dia berhasil membuatku melupakan kesedihanku, meskipun dengan cara yang lumayan menyebalkan.
“Kau tidak ingin kuantar sampai rumahmu?” tanyaku ketika dia memarkirkan mobilku di garasi depan rumah.
“Tidak usah, aku naik taksi saja dari sini,” sahutnya.
Kami membuka pintu mobil dan turun bersama-sama. Dean membuka bagasi belakang dan menurunkan koperku lalu menyerahkan kunci mobil padaku.
Terjadi momen canggung sebelum Dean buka suara, “Jadi kurasa sampai di sini liburan menyenangkan kita.”
“Ya, sepertinya begitu.”
“Kemarikan ponselmu,”
“Apa?”
“Tenang saja, aku hanya ingin menyimpan nomer ponselku, bukan menghipnotis.”
Tanganku meraih ke dalam tas tanganku lalu menyerahkan ponselku padanya. Wajahnya serius ketika dia menekan-nekan tombol di layar ponselku. “Panggilan keluar itu nomorku.”
“Oke,” sahutku.
“Jika kau kesepian dan ingin curhat, kau hanya perlu menghubungiku. Ingat, aku mengerti apa yang kau rasakan,” ujarnya dengan raut serius. “Karena aku masih menyimpan satu sandal hotelmu.”
Kami serempak tergelak. Aku rasa hari ini jumlah tawaku lebih banyak dari total ke seluruhan tawaku dalam delapan bulan belakangan. Dean berpamitan, lalu sebelum dia memasuki Taxi, dia menoleh dan mengatakan, “Sampai jumpa lagi, Jelek.”
Dipanggil jelek tidak pernah membuatku tersenyum seperti orang bodoh sebelumnya seperti ini, hingga aku berpikir proses melupakan masa laluku mungkin masih akan makan waktu yang lumayan panjang, tapi setidaknya sekarang aku sudah melupakan keinginanku untuk menelan sepuluh butir pil Aspirin sekaligus.

***

(Source: )

jonnycraigsgenitals:

Interviewer: Were you good at sports as a kid?

jonnycraigsgenitals:

Interviewer: Were you good at sports as a kid?

(Source: babypeterick)

(Source: sarabriseno)

scaredenburger:

i’m crying omg

scaredenburger:

i’m crying omg

(Source: voteforhurley)

spookygerardd:

omfg i’m dying help

spookygerardd:

omfg i’m dying help

(Source: gerardmakesmecry)

(Source: rollerbob)